Selasa, 04 Juni 2013

pembagian kelompok belajar berdasarkan kemampuan

MAKALAH MANAJEMEN KESISWAAN
(Kelompok Belajar Berdasarkan Kemampuan Yang Berbeda)
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
MAKTALASARI HASIBUAN
MPI -1
download.jpg
 





FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2013


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................                        
DAFTAR ISI..............................................................................                              
BAB I PENDAHULUAN............................................
A.Latar belakang
B. Rumusan masalah  
BAB II PEMBAHASAN
A.Pengertian belajar
B.Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
C.     Prinsip-prinsip belajar
D.    Pengertian kelompok belajar  
E.     Cara membentuk kelompok belajar
F.      Memaksimalkan pemanfaatan sumber belajar
G.    Lembar kerja murid
H.    Hakikat belajar kelompok
I.       Pembentukan belajar kelompok
J.       Faktor-faktor yang harus di perhatikan dalam belajar kelompok
         
DAFTAR PUSTAKA..................................................................... ...................    










KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta segala puji dan syukur kepada-Nya yang telah memberikan rahmat, taupik, dan hidayah-Nya, Tak lupa pula shalawat serta salam kami ucapkan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Sehingga saya dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul” kelompok belajar berdasarkan kemampuan yang berbeda
penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam menulis, menyampaikan kepustakaan yang sekiranya perlu perbaikan dari pembaca. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempunaan makalah ini mendatang baik dari penbaca maupun dosen pembimbing.
Demikian kata pengantar dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai mana mestinya, semoga kita semua mendapatkan faedah dan diterangi hati dalam setiap menuntut ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akherat, terima kasih banyak atas perhatian bapak dosen.



Mei, 2013


Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

               Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif.

B.  Rumusan ­Masalah
Dengan berpijak kepada latar belakang diatas, maka permasalahan yang ingin diungkap dalam tulisan ini, sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dengan kelompok belajar berdasarkan kemampuan yang berbeda?
  2. Jelaskan cara pembentukan kelompok!
  3. Apa yang dimaksud dengan belajar kelompok?














BAB II
PEMBAHASAN
kelompok belajar berdasarkan kemampuan yang berbeda



A.    Pengertian Belajar
Selama hidupnya, manusia selalu menghadapi tantangan dan hambatan agar dapat menjawab tantangan dan hambatan tersebut, maka manusia peflu belajar selama hidupnya. Menurut pendapat tradisional belajar berarti menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Dari pengertian ini yang dipentingkan adalah pendidikan inteIektual. Anak diberi berbagai macam mata pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya. Untuk memperjelas uraian di atas dapat diikuti pendapat dari beberapa ahli diantaranya adalah : Oemar Hamalik (1983) menyatakan : “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.” Dari keterangan di atas perlu diingat, bahwa tidak semua perubahan yang terjadi pada individu karena belajar, misalnya:  pertumbuhan fisik, kematangan atau hal-hal yang bersifat sementara misalnya kelelahan, karena minum obat, karena penyakit dan lain sebagainya.
WS. Winkel (1991) menyatakan: “Belajar adalah suatu aktifitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman ,keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatifkonstans dan berbekas.”
Arief. S. Sadikin dkk. (1984) menyatakan: Seorang telah belajar kalau terdapat perubahan-perubahan tingkah laku pada dirinya. Perubahan-perubahan itu hendaknya terjadi akibat interaksi dengan lingkungan, tidak karena perubahan fisik, tidak karena pengaruh obat dan juga karena kedewasaan. Kecuali itu perubahan-perubahan tersebut harus bersifat permanen , tahan lama dan menetap dan tidak berlangsung sesaat saja” Sumadi Surya Brata (1971: 3) menyatakan :
1.      Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behaveioral changes, aktual maupun potensial)
2.      Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru (dalam arti kenntnis dan fertingkeit).
3.      Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja)
Dari berbagai pendapat diatas dapat ditarik suatu pengertian bahwa belajar merupakan suatu proses psikologi yang berlangsung dalam interaksi aktif antara sobyek didik dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pengalaman, ketrampilan serta nilai-nilai sikap yang konstan. Dengan demikian dapat dicatat tiga elemen penting dalam belajar, yaitu perubahan tingkah laku, latihan atau pengalaman dan elemen konstan. Belajar merupakan suatu proses yang melibatkan aspek-aspek “sosiopsiko pisik”, dalam upaya mencapai tujuan belajar, yaitu terjadinya perubahan-perubahan tingkah laku tersebut, maka siswa harus berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya. Dengan demikian terjadinya perubahan tingkah laku tersebut ditentukan oleh dua hal, yaitu siswa dan lingkungan.
B.     Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Dalam kegiatan belajar akan terjadi interaksi antara siswa dengan lingkungan sehingga belajar merupakan suatu proses atau aktifitas. Agar dapat mencapai tujuan belajar sesuai dengan yang diharapkan maka perlu memperhatikan faktor-faktor apa yang terdapat dalam belajar. Bimo Walgito (1986) menyatakan “faktor anak atau individu yang belajar, faktor lingkungan serta bahan atau materi yang dipelajari” (h. 123). Adapun penjelasan dari masing-masing faktor sebagai berikut :
1.      Faktor anak atau individu yang belajar.
Faktor individu merupakan faktor yang penting meskipun faktor¬faktor yang lain telah memenuhi persyaratan, tetapi jika individu tersebut tidak memiliki kemauan belajar, maka proses belajar tidak akan terjadi. Selanjutnya faktor anak atau individu ini dapat dibedakan menjadi faktor fisik atau faktor psikis.
a.       Faktor fisik
Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. Orang yang sedang sakit atau kelelahan, tidak akan belajar dengan efektif. Cacat tubuh juga akan mengganggu belajar, karena hal ini akan mempengaruhi kondisi psikologis anak yang sedang belajar. Disamping kondisi fisik yang umum tersebut, juga tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kondisi panca indera, terutama indera pengelihatan dan indera pendengaran. Orang belajar dengan membaca, melihat contoh atau model, mengamati hasil eksperimen, melakukan observasi, mendengarkan keterangan guru atau ceramah dan sebagainya hampir tidak terlepas dari indera pengelihatan dan indera pendengaran.

b.      Faktor psikis
Anak didik pada dasamya mempunyai kondisi psikologis yang berbeda-beda, terutama dalam hal kadamya. Sehubungan dengan faktor psikis ini, yang perlu diperhatikan adalah, bahwa anak harus mempunyai kesiapan menghadapi tugas yang harus dipelajarinya. Kesiapan ini mempengaruhi motif, minat, bakat, konsentrasi danh sebagainya.
1.      Motif
Motif merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mempu mendorong individu untuk melakukan aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motif akan cukup kuat bila individu mempunyai kesadaran akan makna dan tujuan perbuatannya. Dengan motif yang kuat individu akan cukup berusaha untuk menghadapi dan menyelesaikan tugas yang telah ditentukan, demikian pula dalam hal belajar.
2.      Konsentrasi
Agar tujuan belajar dapat tercapai, sangat diperlukan konsentrasi yang baik. Seluruh perhatian harus dicurahkan pada materi yang harus dipelajari. Jika tidak ada konsentrasi, maka dapat dipastikan bahwa belajar tersebut tidak memberikan hasil yang maksimal.
3.      Bakat
Bakat adalah sebagai suatu kecakapan seseorang untuk kekuatan untuk mendapatkan kemahiran pola tingkah laku yang lebih kurangnya mencakup perbuatan, Sumadi Suryabrata (1984) menyatakan ; bakat adalah sebagai suatu kondisi, atau sejumlah ciri khusus yang berfungsi sebagai kemampuan individu untuk mendapatkan kemampuan, ketrampilan, dan sejumlah respon dengan cara latihan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, bakat adalah kemampuan individu yang nampak pada tugaslkeahlian atau tingkah laku tertentu dan merupakan ciri khusus yang mencakup ketrampilan dan perbuatan dan tanggung jawab untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan dengan melakukan latihan. Bakat seseorang tidak berdiri sendiri, tetapi masih memerlukan dukungan bakat-bakat yang lain, misalnya bakat ini bidang tehnik, memerlukan bakat matematika, bahasa dan lain sebagainya. Apabila individu yang sedang belajar telah memiliki bakat dan disertai minat dan dilakukan penuh dengan konsentrasi, maka hasil belajar akan lebih baik.
4.      Natural curiousity
Natural curiocity adalah keinginan untuk mengetahui secara alami. Kalau dalam diri anak sudah terselip rasa ingin tahu, berarti dalam dirinya telah ada motif untuk mengetahui hakekat dari mata pelajaran yang dipelajarinya.
5.      Balance personality
Balance personality adalah pribadi yang seimbang, bila individu telah memiliki pribadi yang seimbang, maka individu tersebut akan dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitamya dengan baik, demikian pula dengan sebaliknya. Jika pribadinya terganggu terutama dari segi emosi, maka akan mempengaruhi dirinya dalam menghadapi segala persoalan, termasuk dalam belajar, sehingga hasil yang dicapai juga kurang memuaskan

C. Prinsip-prinsip Belajar.
Didalam kegiatan belajar haruslah terjadi proses interaksi. Proses interaksi ini tidak hanya terjadi antara guru dengan siswa saja, akan tetapi juga terjadi antara siswa dengan siswa yang lain atau juga terhadap sumber belajar yang lain. Seperti diketahui bahwa sumber belajar tidak hanya guru saja melainkan teman, orang tua, buku, laboratorium dan sebagainya. Disamping belajar hams berinteraksi secara aktif, maka kondisi awal siswa juga perlu mendapatkan perhatian, mengingat hal tersebut juga berperan dalam kegiatan belajar. Kondisi awal ini juga sering disebut “faktor situasional” yang meliputi: sosial ekonomi, politik, keadaan musim/iklim dan juga termasuk kondisi pengelolaan sekolah. Disamping memperhatikan faktor-faktor di atas, maka seseorang dalam melakukan k egiatan belajar haruslah memperhatikan prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip ini harus dipegang teguh dan hams ada pada setiap kegiatan belajar mengajar. Suhamo (1991: 50-51). merumuskan prinsip-prinsip belajar meliputi:
¨       Belajar adalah proses interaksi secara aktif.
¨      . Belajar harus ada motivasi.
¨       Belajar hams bertujuan.
¨       Belajar memerlukan bimbingan.
¨       Belajar harus kritis dan berkonsep.
¨      Belajar perlu pemahaman.
¨       Belajar memerlukan latihan/ulangan.
¨      . Belajar harus disertai keinginan/kemauan
¨      . Belajar harus berkonsentrasi
¨      Belajar harus sanggup menstranfer

Dengan memperhatikan berbagai prinsip diaras, maka seseorang yang melakukan kegiatan belajar haruslah terjadi secara interaktif antara siswa dengan subyek didik, perlu adanya motivasi baik intrinsic maupun ekstrinsik, mengarah pada apa yamng dikehendaki atau tujuan diperlukan bimbingan baik dari guru, teman atau sumber belajar lain, dilakukan secara aktif dan berkonsep, dan harus diikuti dengan kemauan yang keras untuk mampu mengatasi berbagai kesulitan, memahami persolan, diulang-ulang untuk memperoleh kemahiran disertai konsentrasi terhadap apa yang dipelajari dan akhimya selesai belajar harus mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, seseorang yang telah selesai melakukan kegaiatan belajar, tetapi hasil yang dicapai belum sesuai dengan apa yang diharapkan, maka haruslah melihat kembali tentang prinsip-prinsip belajar tersebut diatas dan prinsip mana yang belum terlibat dalam kegiatan belajar yang harus diperhatikan agar semua prinsip tersebut telah dilibatkan, sehingga hasil belajar akan lebih dapat memenuhi harapan.


D. Pengertian kelompok belajar
Kelompok belajar merupakan salah satu forum atau tempat untuk melakukan belajar mandiri, karena dalam kelompok belajar murid dapat berlatih dan bekerja bersama, saling membantu dalam belajar dan saling mendorong atau memberi semangat dalam belajar. Kelompok belajar menjadi sangat penting karena tidak selamanya dapat bersama murid-murid di satu kelas. Guru kadang-kadang harus pergi ke kelas lain untuk membelajarkan kelas tersebut. Pada saat itulah kelompok belajar menjadi sangat penting. Kelompok belajar adalah sekumpulan murid yang terdiri dari beberapa orang(5-6 orang) yang diorganisasiakn untuk mencapai tujuan belajar secara bersama dan dalam waktu yang telah ditetapkan (dimodifikasi dari J. Snyder, 1986 : 211).

E. Cara membentuk kelompok belajar 
Kelompok belajar dibentuk dengan maksud untuk membuat murid-murid aktif belajar secara mandiri agar mencapai hasil belajar yang diharapkan. Kelompok belajar dibentuk sesuai dengan kebutuhannya.
1.      Kelompok belajar berdasarkan persamaan kemampuan.
Dalam kelompok belajar ini murid-murid dikelompokkan berdasarkan tingkatkemampuannya. Contoh: Kelompok A terdiri dari murid-murid yang berkemampuan cepat, kelompok B terdiri dari murid-murid yang berkemampuan sedang, dan kelompok C terdiri dari murid-murid yang lambat. Keuntungan dari kelompok belajar seperti ini adalah sebagai berikut:
a. memungkinkan murid-murid bekerja sama dengan tingkat kemampuan yangsama. Yaitu cepat, sedang dan lambat.
b. memudahkan guru untuk memberikan materi dan tugas-tugas sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan murid tersebut.Setiap murid dalam kelompok tersebut diberikan materi dan tugas-tugas yangsama, tetapi untuk setiap kelompoknya dapat diberikan tugas yang berbeda sesuai dengan tingkat kemampuannya. Keuntungan dari pengelompokan belajar seperti ini
c. Murid memperhatikan dan dapat menangkap gagasan atau pendapat orang lain.
d. Menanyakan pada murit lainnya apakah mempunyai gagasan.
e. Berikan alasan untuk setiap gagasan , dan diskusikan bila ada gagasan yangberbeda.
f. Mendorong murid – murit untuk bertanya.
F. Memaksimalkan pemanfaatan sumber belajar 
Tentu Anda masih ingat bahwa belajar kelompok merupakan forum atau tempat untuk belajar mandiri. Dalam belajar kelompok juga dapat melatih dan bekerjasama, saling membantu dan mendorong belajar. Setelah Anda mengetahui prinsip belajar mandiri bagi murid, sebagai guru Anda juga harus memahami konsep tentang “mandiri dalam mengajar”. Dalam konsep mandiri dalam mengajar Anda dituntut untuk tidak terlalu tergantung pada cukupnya jumlah guru, lengkapnya fasilitas mengajar, memadainya buku paket dan sebagainya. Mandiri dalam mengajar berarti juga guru harus penuh inisiatif dan kreatif untuk menciptakan berbagai kemungkinan agar murid tetap belajar dengan baik. Prinsip mandiri adalah menciptakan berbagai situasi belajar mengajar yang terlepas dari ketergantungan terhadap alasan serba kekurangan tadi. Sekolah dan guru dapat berhubungan dengan lingkungannya, dan sumber belajar yang lain yang dapat digunakan oleh murid-murid sebagai sumber belajar. Guru dapat mengungkap, menggali dan memanfaatkan kekayaan alam yang serba melimpah untuk menunjang pendidikan. Yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana Anda dapat menggunakan sumber belajar dengan sebaik-baiknya. Nah, sekarang Anda diharapkan dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar, memberikan tuntunan dalam mengkaitkan antara kurikulum dengan lingkungan sehari-hari, serta membuat variasi metode mengajar agar tidak terjadi kebosanan. Hal ini penting karena guru berhadapan dengan murid dari berbagai jenis latar belakang, tingkat kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda pula. Oleh karena itu dalam menggunakan sumber belajar, metode mengajar dan pendekatan lainnya harus haus disesuaikan disesuaikan dengan kebutuhan. Agar guru dapat memanfaatkan sumber belajar, salah satunya adalah dengan cara mengaktifkan murid untuk bekerja. Lembar Kerja Murid (LKM) merupakan sarana untuk mengaktifkan murid-murid untuk belajar secara mandiri atau kelompok. Tentunya Anda sudah sering memberi tugas kepada murid, namun sebagian besar tugas yang Anda berikan adalah untuk mengerjakan soal. Sekarang mari kita coba memberi penugasan dengan memanfaatkan LKS.
  G. Lembar Kerja Murid
LKM merupakan panduan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan, misalnya melakukan pengamatan ,percobaan, demonstrasi dan simulasi. LKM ini berisi tuntunan langkah-langkah dalam melakukan pengamatan, percobaan, demonstrasi atau simulasi. Kegiatan yang dituntut adalah mulai persiapan, proses pelaksanaan, hasil dan cara mengevaluasinya
H. Hakikat Belajar Kelompok
1. Pengertian Belajar Kelompok
Belajar kelompok merupakan kegiatan belajar yang diikuti lebih dari satu orang, dalam memecahkan masalah yang dihadapi bersama untuk melakukan perubahan-perubahan bersifat pengetahuan, keterampilan maupun nilai sikap untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh kelompok belajar. Fred Percival & Henry Ellington (1988 78) menayatakan ; “Belajar kelompok adalah suatu tehnik yang dapat dieprgunakan untuk meningkatkan mutu belajar secara kelompok.
Dari uraian diatas dapat diambil suatu pengertian, bahwa belajar kelompok adalah suatu tehnik yang dapat dipergunakan oleh sekelompok individu yang sedang belajar untuk melakukan perubahan¬perubahan baik pengetahuan maupun keterampilan serta nilai sikap untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dalam belajar.
I.   Pembentukan Belajar kelompok.
Ada beberapa cara yang dapat dipergunakan dalam pembentukan belajar kelompok antara lain : berdasarkan kemampuan siswa, berdasarkan teman bergaul dan berdasarkan kesamaan minat dan bakat. Adapun alasan -alasan tiap-tiap system dapat diikuti uraian sebagai berikut :
- Pembentukan kelompok berdasarkan tingkat kemampuan berbeda.
            Pembentukan belajar kelompok berdasarkan tingkat kemampuan ini, siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dibagi dan disebar keseluruh kelompok. Hal ini dimaksudkan agar siswa yang berkemampuan tinggi dapat membantu belajar siswa -siswa yang berkemampuan sedang dan rendah. Pembentukan kelompok berdasarkan tingkat kemampuan ini, harus dibuat oleh guru atau pembimbing, sebab kalau hal itu disusun oleh siswa sendiri, maka siswa yang pandai cenderung memilih teman-teman yang berkemampuan tinggi, agar mereka lebih memperoleh kemudahan dalam memecahkan masalah dalam belajar.
- Pembentukan kelompok belajar berdasarkan kesukaan dalam bergaul.
Pembentukan kelompok berdasarkan kesukaan dalam bergaul akan bermanfaat sekali dalam kegiatan belajar kelompok. Hal ini didasrkan bahwa setiap individu dalam kelompok akan mendapatkan kebebasan untuk melakukan interaksi dalam belajar. Dalam hal ini setiap individu kelompok lebih terbuka dalam menyampaikan berbagai kesulitan yang dihadapi. Keterbukaan ini karena keakraban mereka dalam bergaul dalam setiap harinya, sehingga dalam kelompok tersebut terjadi hubungan erat yang saling membantu dan saling membutuhkan. Dalam pembentukan kelompok belajar berdasarkan kesukaan bergaul ini, kelompok disusun oleh siswa sendiri sebab yang mengetahui teman akrab dalam bergaul adaalah siswa-siswa itu sendiri. Namun demikian, guru harus memperhatikan apabila secara kebetulan kelompo itu tersusun dari teman bergaul yang tingkat kemampuannya rendah, maka akan dapat menghambat slswa dalam kelancara belajar, dan sebaliknya apabila secara kebetulan terbentuk dari kelompok teman bergaul yang taraf kemampuannya tinggi justru akan memperlancar dalam proses belajar, sebab dalam kelompok tersebut akan muncul kecenderungan aktivitas belajar untuk bersaing.
- Pembentukan kelompok belajar atas dasar minat dan bakat.
Dalam pembentukan kelompok belajar berdasarkan minat dan bakat ini akan lebih efektif. Sebab minat merupakan suatu bentuk kecenderungan yang terdapat pada individu untuk melakukan sesuatu guna mencukupi atau memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya minat pada setiap individu maka baakat-bakat yang ada pada setiap individu akan berkembang dengan baik. Kalau hal itu dilakukan dalam sekelompok individu yang mempunyai minat dan bakat yang sama, maka akan dapat menhasilkan kegiatan belajar yang lebih sempuma. Sebab dengan adanya minat yang sama berarti setiap individu telah termotivasi oleh dirinya, sehingga akan timbul semangat belajar yang tinggi dan dapat menghasilkan pre stasi belajar yang tinggi pula. Dengan adanya bakat yang sama, maka dalam kelompom tersebut juga akan memperoleh keahlian yang sama.
Dalam pembentukan kelompok belajar berdasarkan minat dan bakat yang sama ini, kelompok haruslah disusun oleh guru, sebab yang lebih mengetahui minat dan bakat dari setiap individu siswa adalah guru. Oleh karena itu, sebaiknya diawal Tahun Pelajaran baru, siswa yang baru masuk dikelas satu perlu diadakan tes bakat dan minat agar hasilnya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pembentukan kelompok belajar.
J. Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan dalam Belajar Kelompok
               Keberhasilan dalam belajar secara kelompok sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain materi yang dipelajari, adanya suatu perintah yang jelas dan tegas, petunjuk yang jelas dan tepat, kesempatan kelompok dalam memecahkan masalah dan kesempatan pada setiap individu kelompok dalam menyampaikaan pendapat serta gagasan dalam pemecahan masalah.
Untuk lebih jelasnya tentang pengaruh tiap-tiap faktor dapat diikuti uraian sebagai berikut :
- Materi atau bahan yang dipelajari
Materi atau bahan yang dipelajari hendaklah sesuai dengan materi yang pernah atau akan diajarkan atau dengan kata lain sesuai dengan materi yang telah diprogramkan dalam kurikulum, sehingga anak / siswa telah termotivasi adanya keinginan atau memperoleh nilai rapot yang tinggi.
- Perintah yang jelas dan tegas
Perintah yang jelas dan tegas sangat menentukan lengkah¬langkah yang akan dilakukan oleh kelompok belajar, sehingga dengan perintah yang tegas dan jelas dapat membantu kelancaran siswa dalam belajar.
- Petunjuk yang jelas dan tepat.
Petunjuk yang jelas dan tepat akan menentukan kerangka berfikir anak dalam belajar. Jadi dengan petunjuk yang jelas dan tepat akan mempercepat anak dalam menyusun kerangka pemikiran anak dalam belajar. Disamping itu dengan petunjuk yang tepat, sangat menentukan keberhasilan belajar, sebab siswa bekerja berdasarkan petunjuk yang tepat dan hasilnya sesuai dengan kehendak dari guru / pembimbing harapkan.
- Kesempatan kepada kelompok.
Perlu diberikan kesempatan kepada kelompok untuk mengembangkan ide-ide atau penyampaian pendapat guna penyempumaan atau perbaikan sistem kerja dan hasil kerja kelompok yang lebih baik.
– Kesempatan terhadap individu yang tergabung dalam kelompok.
Perlu diberikan kesempatan pada setiap individu yang tergabung dalam kelompok untuk meningkatkan kreativitas dalam mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian agar lebih efektif dalam pelaksanaan tugas.
1.     Bentuk-bentuk Tugas Belajar Kelompok
Dalam melakukan bimbingan belajar kelompok dapat diberikan tugas-tugas antara lain :
a) Tugas membaca buku pelajaran sesuai dengan pokok bahasan yang telah diprogramkan.
b) Menjawab soal-soal yang telah tersusun sesuai dengan pokok bahasan yang telah diprogramkan.
c) Malakukan kegiatan praktek di laborat, yang materinya telah disesuaikan dengan pokok bahasan yang telah diprogramkan.
d) Mendiskusikan masalah yang ada hubungannya dengan pelajaran yang topiknya disusun mengarah pada tujuan interaksioanal, baik umum maupun khusus.
Tugas-tugas yang diberikan haruslah mampu mewujudkan aktifitas yang menggambarkan berbagai prinsip-prinsip belajar, sehingga diakhir kegiatan siswa akan dapat mentransfer hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
             2. Beberapa komponen keterampilan belajar kelompok
Ada beberapa komponen ketrampilan dalam membimbing belajar kelompok, antara lain:
1. Menciptakan dan memelihara suasana kelompok belajar yang optimal.
Untuk menciptakan dan memelihara suasana kelompok belajar yang optimal dapat dilakukan dengan cara menunjukkan sikap:
a. Mudah tanggap: sikap mudah tangap, siswa akan merasa mendapatkan perhatian dari pembimbing I guru, atas seluruh kegiatan yang mereka lakukan.
b. Membagi perhatian: Pengelolaan kelas yang efektif akan ditandai dengan pembagian perhatian yang efektif pula. Perbuatan membagi perhatian dapat dikerjakan secara fertikal dan verbal.
c. Memperhatikan seluruh kegiatan kelompok.
d. Memberikan petunjuk yang jelas dan tegas.
e. Memberikan teguran
f. Memberikan penguatan dan sebagainya.
2. Mengembalikan suasana belajar yang optimal.
           Ketrampilan ini sangat berkaitan guru dalam merespon terhadap berbagai gangguan siswa yang berkelanjutan. Hal ini dilakukan untuk segera mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:
a) Mengidentifikasi tingkah laku siswa.
b) Pengelolaan kelompok.
c) Menemukan dan memcahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
a.    Beberapa hal yang perlu dihindari dalam belajar kelompok
 Jangan terIalu banyak campur tangan terhadap tugas yang diberikan pada siswa, sehingga siswa tidak akan selalu menggantungkan segala sesuatunya kepada pembimbing.
b.    Hindarkan terjadinya kelengkapan proses kegiatan belajar akibat petunjuk yang berlebihan atau keterangan yang berbelit-belit, hingga menimbulkan gangguan akibat perhatian tertuju pada petunjuk dan keterangan.
c.    Hindarkan ketidaktepatan membuka dan menutup bimbingan.
d.   Hindarkan terjadinya penyimpangan, akibat keterangan dan petunjuk dan keterangan yang berIebihan hingga keluar dari pokok permasalahan.
e.    Hindarkan pemberian tugas yang memerlukan pemecahan yang memerlukan pemikiran yang bertele-tele hingga menimbulkan dalam proses kegiatan.
f.     Jangan terlalu ban yak memberikan keterangan yang berulang-ulang hingga siswa merasa jemu mendengarkan.
Masalah Metode Diskusi
1. Pengertian Diskusi
Suwalni Sukimo (1985) menyatakan”Diskusi ialah suatu proses dialog yang melibatkan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka, mengenal tujuan antara sasaran yang sudah tertentu, melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau memecahkan masalah.
Dari uraian diatas dapat diambil suatu pengertian bahwa diskusi merupakan suatu proses dialog yang melibatkan sejumlah individu dan saling berhadap-hadapan untuk mencapai tujuan dengan cara bertukar informasi dan saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan suatu masalah.
2.      Pengertian Metode Diskusi
Depdikbud (1994: 13) menyatakan; Metode diskusi adalah suatu cara mengajar atau menyajikan materi melalui pengajuan masalah yang pemecahannya sangat terbuka. Suwalni Sukimo (1985: 78) menjelaskan ; Metode diskusi diartikan suatu cara penyajian bahan pelajaran, dengan memberi kesempatan kepada siswa (kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah atau menyusun berbagai altematif pemecahan suatu masalah” Dengan memperhatikan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode diskusi adalah suatu cara penguasaan suatu bahan pelajaran melalui wahana tukar pendapat berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.

































DAFTAR PUSTAKA
David, R. Fred, Konsep Manajemen Strategis, Edisi VII (terjemahan). (Jakarta, PT Indeks,2004)
Kadarman, A.M. et.al, Pengantar Ilmu Manajemen. (Jakarta: Gramedia,1996)
Rusyan, A. Tabrani, Manajemen Kependidikan. (Bandung: Media Pustaka. 1992)
Soetopo, Hendiyat dan Soemant

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar